Selasa, 24 April 2012

Tugas 3 kesehatan mental


 #  Aliran Psikoanalisa
Aliran ini menyatakan bahwa struktur dasar kepribadian manusia sudah terbentuk pada usia lima tahun. Freud membagi struktur kepribadian dalam tiga komponen, yaitu idego, dansuperego. Perilaku seseorang merupakan hasil interaksi antara ketiga komponen tersebut. Id merupakan sumber dari insting kehidupan (makan, minum, tidur) dan insting agresif yang menggerakkan tingkah laku. Idberorientasi pada prinsip kesenangan.Ego sebagai sistem kepribadian yang terorganisasi, rasional, dan berorientasi pada prinsip realitas. Superegomerupakan komponen moral kepribadian yang terkait dengan norma di masyarakatmengenai baik-buruk atau benar-salah.Superego berfungsi untuk merintangi dorongan id, terutama dorongan seksual dan sifat agresif, juga mendorong egountuk menggantikan tujuan realistik dengan tujuan moralistik, serta mengejar kesempurnaan.
Tesis-tesis tentang hakikat manusia dari aliran Psikoanalisis adalah bahwa:Perilaku pada masa dewasa berakar pada pengalaman masa kanak-kanak,- Sebagaian besar perilaku terintegrasi melalui proses mental yang tidak disadari,- Pada dasarnya manusia memiliki kecenderungan yang sudah diperoleh sejak lahir, terutama kecenderungan mengembangkan diri melalui dorongan libido dan agresifitasnya,- Secara umum perilaku manusia bertujuan dan mengarah pada tujuan untuk meredakan ketegangan, menolak kesakitan dan mencari kenikmatan,- Kegagalan dalam pemenuhan kebutuhan seksual mengarah pada perilaku neurosis,- Pembentukan simpton merupakan bentuk defensive,- Pengalaman tunggal hanya dipahami dengan melihat keseluruhan pengalaman seseorang,- Latihan pengalaman dimasa kanak-kanak berpengaruh penting pada perilaku masa dewasa dan diulangi pada transferensi selama proses perilaku.
Pandangan psikoanalisis memberi implikasi yang sangat luas terhadap konseling dan psikoterapi, khususnya dalam aspek tujuan yang hendak dicapai serta prosedur yang dapat dikembangkan.

#  Aliran Behavioristik
Behavioristik menekankan perspektif psikologi pada tingkah laku manusia, yakni bagaimana individu dapat memiliki tingkah laku baru, menjadi lebih terampil, dan menjadi lebih mengtahui. Behaviorisme memandang individu sebagai makhluk reaktif yang memberi respon terhadap lingkungan, pengalaman, dan pemeliharaan atas bentuk perilakunya. Tujuan aliran psikologi Behaviorisme adalah mencoba memprediksi dan mengontrol perilaku manusia sebagai introspeksi dan evaluasi terhadap tingkah laku yang dapat diamati, bukan pada ranah kesadaran.
Pavlov pernah melakukan eksperimen terhadap seekor anjing. Ia menyalakan lampu di depan anjing yang sedang lapar. Anjing tersebut tidak mengeluarkan air liur. Saat Parlov meletakkan sepotong daging didepannya, anjing tersebut mengeluarkan air liur. Perlakuan itu terus diulang-ulang beberapa kali, sehingga setiap kali lampu dinyalakan anjing tersebut mengeluarkan air liur, walaupun tidak disajikan sepotong daging. Dalam kasus ini, air liur anjing disebut sebagai conditioned response, sementara cahaya lampu disebut sebagai conditioned stimulus.
Jika eksperimen tersebut direfleksikan terhadap manusia sebagai individu, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa hakikat aliran Behaviorisme adalah teori belajar, bagaimana individu memiliki tingkah laku baru, menjadi lebih terampil, menjadi lebih tahu. Kepribadian dapat dipahami dengan mempertimbangkan perkembangan tingkah laku dalam hubungannya yang terus menerus dengan lingkungannya. Menurut B.F. Skinner, cara efektif untuk mengubah dan mengontrol tingkah laku adalah dengan melakukan penguatan (reinforcement) dan pemberian hukuman (punishnent), suatu strategi yang membuat tingkah laku tertentu berpeluang untuk terjadi atau sebaliknya (berpeluang untuk tidak terjadi) pada masa mendatang. Jadi, yang menjadi prinsip umum dalam aliran Behaviorisme adalam tingkah laku sebagai objek, refleks atas semua bentuk tingkah laku, dan pembentukan kebiasaan dalam individu.
  
# Aliran Humanistik
Aliran Humanistik merupakan kontribusi besar dari psikolog-psikolog terkenal seperti Carl Rogers, Goldon Allport dan Abraham Maslow. Humanistik muncul sebagai gerakan besar psikologi pada tahun 1950 – 1960-an. Humanistik menegaskan adanya keseluruhan kapasitas martabat dan nilai kemanusiaan untuk menyatakan diri. Manusia mempunyai potensi di dalam dirinya untuk berkembang sehat dan kreatif. Kreativitas adalah potensi semua orang yang tidak memerlukan bakat dan kemampuan khusus.
Aliran ini mengkritisi aliran Behaviorisme yang menekankan pada stimulasi tingkah laku yang teramati. Menurut aliran Humanistik, pandangan Behaviorisme terlalu menyederhankan dan melalaikan manusia dari pengalaman batinnya, tingkah lakunya yang kompleks, nilai-nilai cinta kasih atau kepercayaan, juga potensi dan aktualisasi diri. Humanistik sangat mementingkan self (diri) manusia sebagai pemersatu yang menerangkan pengalaman-pengalaman subjektif individual.
Aliran Humanistik juga tidak menyetujui pandangan Psikoanalisis yang cenderung pesimistik dan pandangan Behaviorisme yang cenderung memandang manusia sebagai netral (tidak baik dan tidak jahat). Menurut aliran Humanistik, Psikoanalisis dan Behaviorisme telah salah dalam memandang tingkah laku manusia, yaitu sebagai tingkah laku yang ditentukan oleh kekuatan-kekuatan diluar kekuasaanya (entah sadar entah tidak). Humanistik memandang manusia pada hakikatnya adalah baik. Perbuatan-perbuatan manusia yang kejam dan mementingkan diri sendiri dipandang sebagai tingkah laku patologik yang disebabkan oleh penolakan dan frustasi dari sifat yang pada dasarnya baik tersebut. Seorang manusia tidak dipandang sebagai mesin otomat yang pasif, tetapi sebagi peserta aktif yang mempunyai kemerdekaan memilih untuk menentukan nasibnya sendiri dan nasib orang lain. Aliran Humanistik memfokuskan diri pada kemampuan manusia untuk berfikir secara sadar dan rasional dalam mengendalikan hasrat biologisnya guna meraih potensi maksimal. Manusia bertanggung jawab terhadap hidup dan perbuatannya serta mempunyai kebebasan dan kemampuan untuk mengubah sikap dan perilaku mereka.
Proprium
Allport ingin menghilangkan kontradiksi – kontradiksi dan kekaburan – kekaburan yang terkandung dalam pembicaraan tentang “diri” dengan membuang kata lain yang membedakan konsepnya tentang “ diri ” dari semua konsep lain. Istilah yang dipilihnya adalah proprium dan dapat didefinisikan dengan memikirkan bentuk sifat “ propriate” seperti dalam kata “ appropriate”. Proprium menunjuk kepada sesuatuyang dimiliki seseorang atau unik bagi seseorang. Itu berarti bahwa proprium terdiri dari hal – hal atau proses – proses yang penting dan bersifat pribadi bagiseseorang individu, segi – segi yang menentukan seseorang sebagai yang unik. Allport menyebutnya “ saya sebagaimana dirasakan dan diketahui.
Perkembangan Proprium
Proprium itu berkembang dimasa bayi sampai masa adolesensi melalui tujuh tingkat “diri”.  Apabila semua segi perkembangan telah muncul sepenuhnya, maka segi – segi tersebut dipersatukan dalam satu konsep proprium.  Jadi proprium adalah susunan dari tujuh tingkat “ diri” ini. Munculnya proprium merupakan suatu prasyarat untuk suatu kepribadian yang sehat.
“diri”  jasmaniah. Kita tidak dilahirkan dengan suatu perasaan tentang diri; perasaan tentang diri bukan merupakan bagian dari warisan keturunan kita. Bayi tidak dapat membedakan antara diri ( “saya”) dan dunia sekitarnya. Berangsur – angsur, dengan makin bertambah kompleksnya belajar dan pengalaman – pengalaman perceptual, maka berkembanglah suatu perbedaan yang kabur antara sesuatu yang ada “dalam saya” dan hal – hal lain” diluarnya”. Ketika bayi menyentuh, melihat, mendengar dirinya, orang – orang lain, dan benda – benda, perbedaan itu mejadi lebih jelas. Kira – kira pada usia 15 bulan, maka muncullah tingkat pertama perkembangan proprium diri jasmaniah.
Kesadaran akan “ saya jasmaniah” misalnya, bayi membedakan antara jari – jarinya dan sebuah benda yang dipegang dalam jari – jarinya merupakan langkah pertama kearah tercapainya seleruh diri. Allport menyebutnya “jangkar abadi untuk kesadaran diri kita”, meskipun masih jauh dari menjadi seluruh diri orang itu.
Identitas – diri. Pada tingkat kedua perkembangan, muncullah perasaan identitas – diri. Anak mulai sadar akan identitasnya yang berlangsung terus sebagai seorang yang terpisah. Anak mempelajari namanya, menyadari bahwa perasaan tentang “saya” atau “diri”  tetap bertahan dalam menghadapi pengalaman - pengalaman yang berubah –ubah.
Allport berpendapat bahwa segi yang sangat penting dalam identitas diri adalah nama orang. Nama itu menjadi lambang dari kehidupan seseorang yang mengenal dirinya dan membebedakannya dari semua diri yang lain didunia.
Harga – diri. Tingkat ketiga dalam perkembangaan proprium ialah timbulnya harga- diri. Hal ini menyangkut perasaan bangga dari anak sebagai suatu hasil dari belajar mengerjakan benda-benda atas usahanya sendiri. Pada tingkat ini, anak ingin membuat banda-benda, menyelidiki dan memuaskan perasaan ingin tahunya tentang lingkungan, memanipulasi dan mengubah lingkungan itu. Anak yang berusia  2 tahun yang bersifat ingin tahu dan agresif dapat menjadi sangat destruktif karena dorongan untuk memanipulasi dan menyelidiki ini berkuasa. Allport percaya bahwa hal ini merupakan suatu tingkat perkembangan yang menentukan; apabila orang tua menghalangi kebutuhan anak untuk menyelidiki maka perasaan harga diri yang timbul dapat dirusakkan. Akibatnya dapat timbul perasaan dihina dan marah.
Inti dari munculnya harga diri ialah kebutuhan anak akan ontonomi. Hal ini kelihatan dalam tingkah lakunya yang negative sekitar usia 2 tahun, ketika anak kelihatannya selalu menentang segala sesuatu yang dikehendaki orang tua untuk dilakukannya. Kemudian sekitar usia 6 atau 7 tahun harga diri ditentukan oleh semangat bersaing dengan kawan- kawan sebayanya.
Perluasan diri ( self extension). Tingkat perkembangan diri berikutnya mulai sekitar usia 4 tahun. Anak sudah mulai menyadari orang-orang lain dan benda-benda dalam lingkungannya dan fakta bahwa beberapa diataranya adalah milik anak tersebut. Anak berbicara tentang “rumah ku” atau “sekolah ku”. Anak mempelajari arti kata dan nilai. Ini adalah permulaan dari kamampuan orang untuk memperpanjang dan memperluas  dirinya, untuk memasukkan tidak hanya benda-benda tetapi juga abstraksi-abstraksi, nilai-nilali, dan kepercayaan-kepercayaan.
Gambaran diri . gambaran diri berkembang pada tingkat berikutnya. Hal ini menunjukkan bagaimana anak melihat dirinya dan pendapatnya tentang dirinya. Gambaran ini ( atau gambaran-gambaran ) berkembang dari interaksi – interaksi antara orang tua dan anak. Lewat pujian dan hukuman, anak belajar bahwa orangtuanya mengharapkannya supaya menampilkan tingkah laku tertentu dan menjauhi tingkah laku lain. Dengan mempelajari harapan-harapan orangtua ini, anak mengembangkan dasar untuk suatu perasaan tanggung jawab moral serta untuk perumusan tentang tujuan-tujuan dan intensi-intensi.
 Diri sebagai pelaku rasional. Setelah anak mulai sekolah, tahap ini mulai timbul. Aturan-aturan dan harapan-harapan baru dipelajari dari guru-guru dan teman-teman sekolah serta hal yang lebih penting ialah diberikannya aktivitas dan tantangan intelektual. Anak belajar bahwa dia dapat memecahkan masalah-masalah dengan menggunakan proses-proses logis dan rasional.
Perjuangan Proprium (Propriate Striving). Dalam masa adolesensi tingkat terakhir dalam perkembangan diri timbul. Allport percaya bahwa masa adolesensi merupakan suatu masa yang sangat menentukan. Segi yang paling penting dari pencarian identitas ini adalah definisi suatu tujuan hidup. Pentingnya pencarian ini yakni untuk pertama kalinya orang memperhatikan masa depan,tujuan dan impian jangka panjang.



 Sumber :
Schultz Duane. 1991. Psikologi Pertumbuhan. Yogyakarta: Kanisius.

Selasa, 20 Maret 2012

1.Konsep Sehat

Konsep mengenai apa itu sehat atau kesehatan yang ternyata memiliki konsep yang berbeda – beda sehingga berimplikasi pada perilaku yang berbeda-beda pula dalam upaya menangani penyakit maupun supaya tetap sehat. Selain itu dipaparkan mengenai sejarah kesehatan mental yang didalamnya juga menandai berbagai pandangan masyarakat mengenai apa yang dimaksut dengan gangguan atau sakit mental. Berbagai pandangan tersebut berakibat pada beragamnya penanganan terhadap orang yang dianggap sakit secara mental.
Dibawah ini penjelasan mengenai konsep sehat :
1.      Kondisi secara spiritual           :  Kesadaran diri terhadap agama
2.      Kondisi secara Emosi               :  Mampu mengolola emosi
3.      Kondisi secara intektual           :  Mampu mengaktualkan pontensi-pontesi yang dimiliki
4.      Kondisi secara Fisik                :  Keadaan yang sempurna dari fisik, mental,dan sosial ,tidak hanya      bebas dari penyakit atau kelemahan.
5.      Kondisi secara social               :  Dapat mengikuti kebiasaan- kebiasaan social

2. Sejarah Perkembangan Kesehatan Mental

Zaman Prasejarah

Manusia purba sering mengalami gangguan mental atau fisik, seperti infeksi, artritis, dll.

Zaman peradaban awal

Phytagoras (orang yang pertama memberi penjelasan alamiah terhadap penyakit mental)
Hypocrates (Ia berpendapat penyakit atau  gangguan otak adalah penyebab penyakit mental)
Plato (gangguan mental sebagian gangguan moral, gangguan fisik dan sebagiaan lagi dari dewa dewa).

Zaman Renaissesus

Pada zaman ini di beberapa negara Eropa, para tokoh keagamaan, ilmu kedokteran dan filsafat mulai menyangkal anggapan bahwa pasien sakit mental tenggelam dalam dunia tahayul.

Era Pra Ilmiah

1. Kepercayaan Animisme : Sejak zaman dulu gangguan mental telah muncul dalam konsep primitif, yaitu kepercayaan terhadap faham animisme bahwa dunia ini diawasi atau dikuasai oleh roh-roh atau dewa-dewa. Orang Yunani kuno percaya bahwa orang mengalami gangguan mental, karena dewa marah kepadanya dan membawa pergi jiwanya. Untuk menghindari kemarahannya, maka mereka mengadakan perjamuan pesta (sesaji) dengan mantra dan kurban.


2.  Kepercayaan Naturalisme : Suatu aliran yang berpendapat bahwa gangguan mental dan fisik itu akibat dari alam. Hipocrates (460-367) menolak pengaruh roh, dewa, setan atau hantu sebagai penyebab sakit. Dia mengatakan, Jika anda memotong batok kepala, maka anda akan menemukan otak yang basah, dan mencium bau amis. Tapi anda tidak akan melihat roh, dewa, atau hantu yang melukai badan anda.Seorang dokter Perancis, Philipe Pinel (1745-1826) menggunakan filsafat polotik dan sosial yang baru untuk memecahkan problem penyakit mental. Dia terpilih menjadi kepala Rumah Sakit Bicetre di Paris. Di rumah sakit ini, pasiennya dirantai, diikat ketembok dan tempat tidur. Para pasien yang telah di rantai selama 20 tahun atau lebih, dan mereka dianggap sangat berbahaya dibawa jalan-jalan di sekitar rumah sakit. Akhirnya, diantara mereka banyak yang berhasil, mereka tidak lagi menunjukkan kecenderungan untuk melukai atau merusak dirinya.


Era Modern

Perubahan luar biasa dalam sikap dan cara pengobatan gangguan mental terjadi pada saat berkembangnya psikologi abnormal dan psikiatri di Amerika pada tahun 1783. Ketika itu Benyamin Rush (1745-1813) menjadi anggota staf medis di rumah sakit Pensylvania. Di rumah sakit ini ada 24 pasien yang dianggap sebagai lunatics (orang gila atau sakit ingatan). Pada waktu itu sedikit sekali pengetahuan tentang penyebab dan cara menyembuhkan penyakit tersebut. Akibatnya pasien-pasien dikurung dalam ruang tertutup, dan mereka sekali-kali diguyur dengan air.

Rush melakukan suatu usaha yang sangat berguna untuk memahami orang-orang yang menderita gangguan mental tersebut melalui penulisan artikel-artikel. Secara berkesinambungan, Rush mengadakan pengobatan kepada pasien dengan memberikan dorongan (motivasi) untuk mau bekerja, rekreasi, dan mencari kesenangan.


Pada tahun 1909, gerakan mental Hygiene secara formal mulai muncul. Perkembangan gerakan mental hygiene ini tidak lepas dari jasa Clifford Whitting Beers (1876-1943) bahkan karena jasanya itu ia dinobatkan sebagai The Founder of the MentalHygiene Movement.
Dia terkenal karena pengalamannya yang luas dalam bidang pencegahan dan pengobatan gangguan mental dengan cara yang sangat manusiawi.


Secara hukum, gerakan mental hygiene ini mendapat pengakuan pada tanggal 3 Juli 1946, yaitu ketika presiden Amerika Serikat menandatangani The National Mental Health Act., yang berisi program jangka panjang yang diarahkan untuk meningkatkan kesehatan mental seluruh warga masyarakat.

Bebarapa tujuan yang terkandung dalam dokumen tersebut meliputi

1.Meningkatkan kesehatan mental seluruh warga masyarakat Amerika Serikat, melalui penelitian, investigasi, eksperimen, penayangan kasus-kasus, diagnosis, dan pengobatan.

2.Membantu lembaga-lembaga pemerintah dan swasta yang melakukan kegiatan penelitian dan meningkatkan koordinasi antara para peneliti dalam melakukan kegiatan dan mengaplikasikan hasil-hasil penelitiannya.

3.Memberikan latihan terhadap para personel tentang kesehatan mental.

4.Mengembangkan dan membantu negara dalam menerapkan berbagai metode pencegahan, diagnosis, dan pengobatan terhadap para pengidap gangguan mental.

            Pada tahun 1950, organisasi mental hygiene terus bertambah, yaitu dengan berdirinya National Association for Mental Health. Gerakan mental hygiene ini terus berkembang sehingga pada tahun 1975 di Amerika terdapat lebih dari seribu perkumpulan kesehatan mental. Di belahan dunia lainnya, gerakan ini dikembangkan melalui The World Federation forMental Health dan The World Health Organization. 



      RANGKUMAN

Sejarah kesehatan mental merupakan cerminan pandangan masyarakat terhadap gangguan mental dan perlakuan yang diberikan. Ada beberapa pandangan masyrakat terhadap gangguan mental didunia barat, antara lain :
1.      Akibat kekuatan supranatural
2.      Dirasuki oleh roh atau setan
3.      Dianggap memliliki cara berpikir irasional
4.      Dianggap sakit
5.      Merupakan reaksi terhadap tekanan atau stres merupakan perilaku maladaptif






DAFTAR PUSTAKA

Syamsu Yusuf. 2009. Mental Hygiene. Bandung : Maestro.
Siswanto. S.Psi. Msi 2007.Kesehatan mental.Yogyakarta: Andi.


3. Kepribadian Erikson Dan Freud

Jelaskan bagaimana pribadi seseorang dapat berkembang  !
a.         Menurut teori perkembangan kepribadian Erikson.
Seperti yang telah kita ketahui, perkembangan berlangsung melalui tahapan. Konsep-konsep erikson yang sudah tidak asing lagi akan kita uraikan, seperti berikut.
1.    Kepercayaan dasar Vs Kecurigaan dasar
Kepercayaan dasar yang paling awal terbentuk selama tahap semsorik-oral dan ditunjukan oleh bayi lewat kepastiannya. Situasi yang menimubulkan kenyaman membuat kepercayaan bayi sekaligus bisa membuat kecurigaan bayi. Perbandingan antara kepercayaan dasar dan kecurigaan dasar  mengakibatkan tumbuhnya pengharapan. Tahap kehidupan bayi ini merupakan tahap ritualisasi numinous. Yang dimaksudkan oleh Erikson  dengan numinous adalah perasaan bayi akan kehadiran ibu sehingga bayi tidak memiliki perasaan keterasingan atau merasa abandonment (dibuang).
2.    Otonomi Vs Perasaan malu dan Keragu-raguan
Tahap muskular-anal dalam skema psikoseksual, dimana anak mempelajari apakah yang diharapkan dari dirinya, apakah kewajiban-kewajibanya dan hak-haknya yang disertai apakah pembatasan-pembatasan yang dikenakan pada dirinya. Sehingga anak didorong untuk mengalami situasi-situasi yang menuntut otonomi dalam melakukan pilihan bebas. Penanaman rasa malu secara berlebihan akan menimbulkan anak tidak memiliki rasa kepercayaan diri.
3.    Inisiatif Vs Kesalahan
Tahap lokomotor-genital dalam skema psikoseksualitas ialah tahap inisiatif, suatu masa untuk penguasaan dan tanggung jawab. Selama tahap ini anak menampilkan diri lebih maju dan lebih seimbang secara fisik maupun kejiwaan. Bahayanya dalam tahap ini adalah perasaan bersalah dimana ketidakmampuan anak dalam menyelesaikan tujuan-tujuannya.
4.    Kerajinan Vs Inferioritas
Pada tahap ini anak harus belajar mengontrol imajinasinya yang sangat kaya dan mulai menempuh pendidikan formal. Ia mengembangkan suatu sikap rajin dan mempelajari yang dihasilkan dari ketekunan dan kerajinan. Setelah ia mengembangkan kecerdasan, perlu mencegah timbulnya inferioritas dan regresi eg0 (kemunduran ego) artinya adanya perasaan rendah diri dan kekanak-kanakan.
5.    Indentitas Vs Kekacauan identitas
Selama masa adolesen ini, individu mulai merakan suatu perasaan tentang identitas dirinya, perasaan dimana ia adlah manusia yang unik, siap memasuki peranan dalam masyarakat. Karena peralihan dari masa kanak-kanak ke masa dewasa menimbulkan perubahan sosial dan historis dilain pihak, sehingga mengakibatkan kekacauan identitas. Istilahnya krisis identitas.
6.    Keintiman Vs Isolasi
Dalam tahap ini, orang-orang dewasa awal (young adults) siap dan ingin menyatukan identitasnya dengan orang lain. Menginginkan adanya hubungan yang intim dan akrab. Misalnya dalam arti sosial dimana genitalitas membutuhkan seseorang dan dicintai untuk hubungan seksual sehinngga mempunyai suatu hubungan kepercayaan. Bahaya dalam keintiman yaitu isolasi, perasaan perlu membuat pilihan-pilihan yang berkaitan dengan masalah-masalah kepribadian.
7.    Generativitas Vs Stagnasi
Tahap generativitas adalah perhatian terhadap apa yang dihasilkan-keturunan, produk-produk, ide-ide dsb. Apabila generativitas lemah atau tidak diungkapkan maka kepribadian akan mundur, dan mengalami pemiskinan serta stagnasi (berhenti ditempat).
8.    Integritas Vs Keputusan
Tahap terakhir dalam proses epigenetic perkembangan tersebut dinamakan integritas. Integritas ialah suatu keadaan yang dicapai seseorang setelah berhasil menyesuaikan diri dengan keberhasilan-keberhasilan dan kegagalan-kegagalan dalam hidup. Lawannya adalah keputusan dimana ia perlu menghadapi perubahan-perubahan siklus kehidupan individuterhadap kondisi-kondisi sosial dan sejarah, belum lagi kefanaan (ketidak abadian) hidup menghadapi kematian.

b.               Menurut teori perkembangan kepribadian Freud.
Sigmund frued (1856 – 1939 ), seorang  dokter dari Wina , merumuskan sudut pandang Psikoanalisis, yang memandang  perkembangan sebagai hal yang dibentuk oleh daya- daya tidak sadar yang memotivasi perilaku manusia. Psikoanalisis yang  dikembangkan Frued, berupaya untuk memberikan para pasien wawasan (insight) ke dalam konflik – konflik emosional yang tidak sadar dengan menanyakan mereka berbagi pertanyaan  yang dirangcang untuk mengungkap ingatan- ingatan terkubur.
Frued (1953,1964a,1964b) meyakinin bahwa meyakini bahwa manusia dilahirkan oleh dorongan – dorongan biologis yang harus diarahkan ulang untuk membuatnya bisa hidup dimasyarakat. Ia mengajukan tiga bagian kepribadian yang hipotesis : id, ego dan , superego. Bayi yang baru lahir  dikendalikan oleh id yang berkerja dibawah prinsip kesenangan  (pleasure principle) dorongan untuk mencari kepuasan kebutuhan dan hasrat dengan segera. Ketika kepuasan tertunda , sebagaimana ketika bayi harus menunggu untuk diberikan makan, mereka mulai memandang dirinya terpisah dari dunia luar. Ego,  yang merepresentasikan penalaran berkembang secara bertahap selama setahun pertama kehidupan atau berikutnya dan berkerja dibawah prinsip kenyataan ( reality principle). Tujuan ego adalah menemukan cara yang realitis untuk memuaskan id yang dapat diterima superego.

4. Keperibadian Sehat

Apa itu kepribadian yang sehat ? sampai sekarang kita hanya menggambarkan apakah yang bukan kepribadian yang sehat .
Berikut ini tujuh kriteria dari Allport tentang sifat – sifat khusus kepribadian yang sehat :
1.      Perluasan Perasaan Diri

Ketika orang menjadi matang, ia mengembangkan perhatian – perhatian diluar diri. Tidak cukup sekedar berinteraksi dengan sesuatu atau sesorang diluar diri. Lebih dari itu , ia harus memiliki partisipasi yang lasung dan penuh ,yang oleh Allport disebut “partisipasi otentik”.
Dalam pandangan Allport aktivitas yang harus dilakukan harus cocok dan penting , atau sungguh berarti bagi orang tersebut .jika menurut kita perkerjaan itu penting ,mengerjakan perkerjaan itu sebaik-baiknya akan membuat kita merasa enak ,dan berarti kita menjadi partisipan otentik. Hal ini akan memberikan kepuasan bagi diri kita.
            orang yang semakin terlibat sepenuhnya dengan berbagai aktivitas, orang atau ide,ia akan lebih sehat secara psikologis. Hal ini berlaku bukan hanya untuk perkerjaan,melainkan juga hubungan dengan keluarga dan teman , kegemaran, dan keanggotan dalam politik, agama dan sebagainya.

2.      Relasi Sosial yang Hangat

Allport membedakan dua macam kehangatan dalam hubungan dengan orang lain, yaitu, kapasitas untuk mengembangkan keintiman dan untuk merasa teharu.
Orang yang sehat secara psikologis mampu mengembangkan relasi intim dengan orang tua , anak, pasangan dan sahabat. Ini merupakan hasil dari perluasan diri dan perasaan identitas diri yang berkembang dengan baik.

 Jenis kehangatan yang lain, yaitu perasaan terharu ,merupakan hasil pemahaman terhadap kondisi dasar manusia dan perasaan kekeluargaan dengan semua bangsa. Orang sehat memiliki kapasitas untu k memahami kesakitan, penderitaan, ketakutan, dan kegagalan yang merupakan ciri kehidupan manusia.

Hasil dari empati semacam ini adalah kesabaran terhadap tingkah laku orang lain dan tidak cenderung mengadili atau menghukum. Orang sehat dapat menerima kelemahan manusia , dan mengetahui dirinya juga memiliki kelemahan, sebaliknya orang yang neurotis tidak mampu bersabardan memahami sifat universal pengalaman – pengalaman dasar manusia.

3.      Keamanan Emosional

Kualitas utama manusia sehat adalah penrimaan diri. Mereka menerima semua segi keberadaan mereka, termasuk kelemahan- kelemahan dengan tidak menyerah secara pasif terhadap kelemahan tersebut.
           
Selain itu, kepribadian yang sehat tidak tertawan oleh emosi – emosi mereka, dan tidak berusaha bersembunyi dari emosi – emosi itu. Mereka dapat mengendalikan emosi, sehingga tidak mengganggu hubungan antarpribadi. Pengendaliannya tidak dengan cara ditekan , tetapi diarahkan ke dalam saluran yang lebih konstruktif.

4.      Persepsi Realistis
Orang – orang yang sehat memandang dunia secara objektif. Sebaliknya orang- orang neurotis kerapkali memahami realitas disesuaikan dengan keinginan, kebutuhan , dan ketakutan mereka sendiri. Orang sehat memahami realitas sebagaimana adanya.
5.      Keterampilan dan Tugas

Kotmitmen pada orang sehat atau matang begitu kuat, sehingga sanggup menenggelamkan semua pertahanan ego. Dedikasi terhadap perkerjaan berhubungan dengan rasa tanggung jawab dan kelasungan hidup yang positif.

Perkerjaan dari tanggung jawab memberikan arti dan perasaan kontinuitas untuk hidup.  Tidak mungkin mencapai kematangan dan kesehatan psikologis tanpa melakukan perkerjaan yang penting dan melakukannya dengan dedikasi, komitmen  dan keterampilan.

6.      Pemahaman Diri

Untuk mencapai pemahaman diri yang memadai dituntut pemahaman tentang dirinya , menuntut keadaan sesungguhnya. Jika gambaran diri yang dipahami semakin dekat dengan keadaan yang sesungguhnya , individu tersebut semakin matang. Orang yang sehat terbuka pada pendapat orang lain dalam merumuskan gambaran diri yang objektif.
Orang yang memiliki objektifitas terhadap diri tak mungkin memproyeksikan kualitas pribadinya kepada orang lain( seolah orang lain negative).
7.      Filsafat Hidup

Orang yang sehat melihat ke depan , didorong oleh tujuan dan rencana jangka panjang. Ia memiliki perasaan akan tujuan , perasaan akan tugas untuk berkerja sampai tuntas sebagai bantu sendi kehidupannya.



DAFTAR PUSTAKA
Dra. M. M. Nilam Widyarini, Msi.2009. kunci pengembangan diri.Jakarta: PT Elex media komputindo.
Calvin S. Hall dan Gardner Lindzey. 1993. Teori-Teori Psikodinamik (Klinis). Yogyakarta : Kanisius.
Diane E. Papalia, Sally Wendkos Olds,dan Ruth Duskin Feldman.2009. Human Development .jakarta : Salemba Humanika.




1.Konsep Sehat

Konsep mengenai apa itu sehat atau kesehatan yang ternyata memiliki konsep yang berbeda – beda sehingga berimplikasi pada perilaku yang berbeda-beda pula dalam upaya menangani penyakit maupun supaya tetap sehat. Selain itu dipaparkan mengenai sejarah kesehatan mental yang didalamnya juga menandai berbagai pandangan masyarakat mengenai apa yang dimaksut dengan gangguan atau sakit mental. Berbagai pandangan tersebut berakibat pada beragamnya penanganan terhadap orang yang dianggap sakit secara mental.
Dibawah ini penjelasan mengenai konsep sehat :
1.      Kondisi secara spiritual           :  Kesadaran diri terhadap agama
2.      Kondisi secara Emosi               :  Mampu mengolola emosi
3.      Kondisi secara intektual           :  Mampu mengaktualkan pontensi-pontesi yang dimiliki
4.      Kondisi secara Fisik                :  
5.      Kondisi secara social               :  Dapat mengikuti kebiasaan- kebiasaan social
6.       
2. Sejarah Perkembangan Kesehatan Mental

Zaman Prasejarah

Manusia purba sering mengalami gangguan mental atau fisik, seperti infeksi, artritis, dll.

Zaman peradaban awal

Phytagoras (orang yang pertama memberi penjelasan alamiah terhadap penyakit mental)
Hypocrates (Ia berpendapat penyakit atau  gangguan otak adalah penyebab penyakit mental)
Plato (gangguan mental sebagian gangguan moral, gangguan fisik dan sebagiaan lagi dari dewa dewa).

Zaman Renaissesus

Pada zaman ini di beberapa negara Eropa, para tokoh keagamaan, ilmu kedokteran dan filsafat mulai menyangkal anggapan bahwa pasien sakit mental tenggelam dalam dunia tahayul.

Era Pra Ilmiah

1. Kepercayaan Animisme : Sejak zaman dulu gangguan mental telah muncul dalam konsep primitif, yaitu kepercayaan terhadap faham animisme bahwa dunia ini diawasi atau dikuasai oleh roh-roh atau dewa-dewa. Orang Yunani kuno percaya bahwa orang mengalami gangguan mental, karena dewa marah kepadanya dan membawa pergi jiwanya. Untuk menghindari kemarahannya, maka mereka mengadakan perjamuan pesta (sesaji) dengan mantra dan kurban.


2.  Kepercayaan Naturalisme : Suatu aliran yang berpendapat bahwa gangguan mental dan fisik itu akibat dari alam. Hipocrates (460-367) menolak pengaruh roh, dewa, setan atau hantu sebagai penyebab sakit. Dia mengatakan, Jika anda memotong batok kepala, maka anda akan menemukan otak yang basah, dan mencium bau amis. Tapi anda tidak akan melihat roh, dewa, atau hantu yang melukai badan anda.Seorang dokter Perancis, Philipe Pinel (1745-1826) menggunakan filsafat polotik dan sosial yang baru untuk memecahkan problem penyakit mental. Dia terpilih menjadi kepala Rumah Sakit Bicetre di Paris. Di rumah sakit ini, pasiennya dirantai, diikat ketembok dan tempat tidur. Para pasien yang telah di rantai selama 20 tahun atau lebih, dan mereka dianggap sangat berbahaya dibawa jalan-jalan di sekitar rumah sakit. Akhirnya, diantara mereka banyak yang berhasil, mereka tidak lagi menunjukkan kecenderungan untuk melukai atau merusak dirinya.


Era Modern

Perubahan luar biasa dalam sikap dan cara pengobatan gangguan mental terjadi pada saat berkembangnya psikologi abnormal dan psikiatri di Amerika pada tahun 1783. Ketika itu Benyamin Rush (1745-1813) menjadi anggota staf medis di rumah sakit Pensylvania. Di rumah sakit ini ada 24 pasien yang dianggap sebagai lunatics (orang gila atau sakit ingatan). Pada waktu itu sedikit sekali pengetahuan tentang penyebab dan cara menyembuhkan penyakit tersebut. Akibatnya pasien-pasien dikurung dalam ruang tertutup, dan mereka sekali-kali diguyur dengan air.

Rush melakukan suatu usaha yang sangat berguna untuk memahami orang-orang yang menderita gangguan mental tersebut melalui penulisan artikel-artikel. Secara berkesinambungan, Rush mengadakan pengobatan kepada pasien dengan memberikan dorongan (motivasi) untuk mau bekerja, rekreasi, dan mencari kesenangan.


Pada tahun 1909, gerakan mental Hygiene secara formal mulai muncul. Perkembangan gerakan mental hygiene ini tidak lepas dari jasa Clifford Whitting Beers (1876-1943) bahkan karena jasanya itu ia dinobatkan sebagai The Founder of the MentalHygiene Movement.
Dia terkenal karena pengalamannya yang luas dalam bidang pencegahan dan pengobatan gangguan mental dengan cara yang sangat manusiawi.


Secara hukum, gerakan mental hygiene ini mendapat pengakuan pada tanggal 3 Juli 1946, yaitu ketika presiden Amerika Serikat menandatangani The National Mental Health Act., yang berisi program jangka panjang yang diarahkan untuk meningkatkan kesehatan mental seluruh warga masyarakat.

Bebarapa tujuan yang terkandung dalam dokumen tersebut meliputi

1.Meningkatkan kesehatan mental seluruh warga masyarakat Amerika Serikat, melalui penelitian, investigasi, eksperimen, penayangan kasus-kasus, diagnosis, dan pengobatan.

2.Membantu lembaga-lembaga pemerintah dan swasta yang melakukan kegiatan penelitian dan meningkatkan koordinasi antara para peneliti dalam melakukan kegiatan dan mengaplikasikan hasil-hasil penelitiannya.

3.Memberikan latihan terhadap para personel tentang kesehatan mental.

4.Mengembangkan dan membantu negara dalam menerapkan berbagai metode pencegahan, diagnosis, dan pengobatan terhadap para pengidap gangguan mental.

            Pada tahun 1950, organisasi mental hygiene terus bertambah, yaitu dengan berdirinya National Association for Mental Health. Gerakan mental hygiene ini terus berkembang sehingga pada tahun 1975 di Amerika terdapat lebih dari seribu perkumpulan kesehatan mental. Di belahan dunia lainnya, gerakan ini dikembangkan melalui The World Federation forMental Health dan The World Health Organization. 



      RANGKUMAN

Sejarah kesehatan mental merupakan cerminan pandangan masyarakat terhadap gangguan mental dan perlakuan yang diberikan. Ada beberapa pandangan masyrakat terhadap gangguan mental didunia barat, antara lain :
1.      Akibat kekuatan supranatural
2.      Dirasuki oleh roh atau setan
3.      Dianggap memliliki cara berpikir irasional
4.      Dianggap sakit
5.      Merupakan reaksi terhadap tekanan atau stres merupakan perilaku maladaptif






DAFTAR PUSTAKA

Syamsu Yusuf. 2009. Mental Hygiene. Bandung : Maestro.
Siswanto. S.Psi. Msi 2007.Kesehatan mental.Yogyakarta: Andi.


3. Kepribadian Erikson Dan Freud

Jelaskan bagaimana pribadi seseorang dapat berkembang  !
a.         Menurut teori perkembangan kepribadian Erikson.
Seperti yang telah kita ketahui, perkembangan berlangsung melalui tahapan. Konsep-konsep erikson yang sudah tidak asing lagi akan kita uraikan, seperti berikut.
1.    Kepercayaan dasar Vs Kecurigaan dasar
Kepercayaan dasar yang paling awal terbentuk selama tahap semsorik-oral dan ditunjukan oleh bayi lewat kepastiannya. Situasi yang menimubulkan kenyaman membuat kepercayaan bayi sekaligus bisa membuat kecurigaan bayi. Perbandingan antara kepercayaan dasar dan kecurigaan dasar  mengakibatkan tumbuhnya pengharapan. Tahap kehidupan bayi ini merupakan tahap ritualisasi numinous. Yang dimaksudkan oleh Erikson  dengan numinous adalah perasaan bayi akan kehadiran ibu sehingga bayi tidak memiliki perasaan keterasingan atau merasa abandonment (dibuang).
2.    Otonomi Vs Perasaan malu dan Keragu-raguan
Tahap muskular-anal dalam skema psikoseksual, dimana anak mempelajari apakah yang diharapkan dari dirinya, apakah kewajiban-kewajibanya dan hak-haknya yang disertai apakah pembatasan-pembatasan yang dikenakan pada dirinya. Sehingga anak didorong untuk mengalami situasi-situasi yang menuntut otonomi dalam melakukan pilihan bebas. Penanaman rasa malu secara berlebihan akan menimbulkan anak tidak memiliki rasa kepercayaan diri.
3.    Inisiatif Vs Kesalahan
Tahap lokomotor-genital dalam skema psikoseksualitas ialah tahap inisiatif, suatu masa untuk penguasaan dan tanggung jawab. Selama tahap ini anak menampilkan diri lebih maju dan lebih seimbang secara fisik maupun kejiwaan. Bahayanya dalam tahap ini adalah perasaan bersalah dimana ketidakmampuan anak dalam menyelesaikan tujuan-tujuannya.
4.    Kerajinan Vs Inferioritas
Pada tahap ini anak harus belajar mengontrol imajinasinya yang sangat kaya dan mulai menempuh pendidikan formal. Ia mengembangkan suatu sikap rajin dan mempelajari yang dihasilkan dari ketekunan dan kerajinan. Setelah ia mengembangkan kecerdasan, perlu mencegah timbulnya inferioritas dan regresi eg0 (kemunduran ego) artinya adanya perasaan rendah diri dan kekanak-kanakan.
5.    Indentitas Vs Kekacauan identitas
Selama masa adolesen ini, individu mulai merakan suatu perasaan tentang identitas dirinya, perasaan dimana ia adlah manusia yang unik, siap memasuki peranan dalam masyarakat. Karena peralihan dari masa kanak-kanak ke masa dewasa menimbulkan perubahan sosial dan historis dilain pihak, sehingga mengakibatkan kekacauan identitas. Istilahnya krisis identitas.
6.    Keintiman Vs Isolasi
Dalam tahap ini, orang-orang dewasa awal (young adults) siap dan ingin menyatukan identitasnya dengan orang lain. Menginginkan adanya hubungan yang intim dan akrab. Misalnya dalam arti sosial dimana genitalitas membutuhkan seseorang dan dicintai untuk hubungan seksual sehinngga mempunyai suatu hubungan kepercayaan. Bahaya dalam keintiman yaitu isolasi, perasaan perlu membuat pilihan-pilihan yang berkaitan dengan masalah-masalah kepribadian.
7.    Generativitas Vs Stagnasi
Tahap generativitas adalah perhatian terhadap apa yang dihasilkan-keturunan, produk-produk, ide-ide dsb. Apabila generativitas lemah atau tidak diungkapkan maka kepribadian akan mundur, dan mengalami pemiskinan serta stagnasi (berhenti ditempat).
8.    Integritas Vs Keputusan
Tahap terakhir dalam proses epigenetic perkembangan tersebut dinamakan integritas. Integritas ialah suatu keadaan yang dicapai seseorang setelah berhasil menyesuaikan diri dengan keberhasilan-keberhasilan dan kegagalan-kegagalan dalam hidup. Lawannya adalah keputusan dimana ia perlu menghadapi perubahan-perubahan siklus kehidupan individuterhadap kondisi-kondisi sosial dan sejarah, belum lagi kefanaan (ketidak abadian) hidup menghadapi kematian.

b.               Menurut teori perkembangan kepribadian Freud.
Sigmund frued (1856 – 1939 ), seorang  dokter dari Wina , merumuskan sudut pandang Psikoanalisis, yang memandang  perkembangan sebagai hal yang dibentuk oleh daya- daya tidak sadar yang memotivasi perilaku manusia. Psikoanalisis yang  dikembangkan Frued, berupaya untuk memberikan para pasien wawasan (insight) ke dalam konflik – konflik emosional yang tidak sadar dengan menanyakan mereka berbagi pertanyaan  yang dirangcang untuk mengungkap ingatan- ingatan terkubur.
Frued (1953,1964a,1964b) meyakinin bahwa meyakini bahwa manusia dilahirkan oleh dorongan – dorongan biologis yang harus diarahkan ulang untuk membuatnya bisa hidup dimasyarakat. Ia mengajukan tiga bagian kepribadian yang hipotesis : id, ego dan , superego. Bayi yang baru lahir  dikendalikan oleh id yang berkerja dibawah prinsip kesenangan  (pleasure principle) dorongan untuk mencari kepuasan kebutuhan dan hasrat dengan segera. Ketika kepuasan tertunda , sebagaimana ketika bayi harus menunggu untuk diberikan makan, mereka mulai memandang dirinya terpisah dari dunia luar. Ego,  yang merepresentasikan penalaran berkembang secara bertahap selama setahun pertama kehidupan atau berikutnya dan berkerja dibawah prinsip kenyataan ( reality principle). Tujuan ego adalah menemukan cara yang realitis untuk memuaskan id yang dapat diterima superego.

4. Keperibadian Sehat

Apa itu kepribadian yang sehat ? sampai sekarang kita hanya menggambarkan apakah yang bukan kepribadian yang sehat .
Berikut ini tujuh kriteria dari Allport tentang sifat – sifat khusus kepribadian yang sehat :
1.      Perluasan Perasaan Diri

Ketika orang menjadi matang, ia mengembangkan perhatian – perhatian diluar diri. Tidak cukup sekedar berinteraksi dengan sesuatu atau sesorang diluar diri. Lebih dari itu , ia harus memiliki partisipasi yang lasung dan penuh ,yang oleh Allport disebut “partisipasi otentik”.
Dalam pandangan Allport aktivitas yang harus dilakukan harus cocok dan penting , atau sungguh berarti bagi orang tersebut .jika menurut kita perkerjaan itu penting ,mengerjakan perkerjaan itu sebaik-baiknya akan membuat kita merasa enak ,dan berarti kita menjadi partisipan otentik. Hal ini akan memberikan kepuasan bagi diri kita.
            orang yang semakin terlibat sepenuhnya dengan berbagai aktivitas, orang atau ide,ia akan lebih sehat secara psikologis. Hal ini berlaku bukan hanya untuk perkerjaan,melainkan juga hubungan dengan keluarga dan teman , kegemaran, dan keanggotan dalam politik, agama dan sebagainya.

2.      Relasi Sosial yang Hangat

Allport membedakan dua macam kehangatan dalam hubungan dengan orang lain, yaitu, kapasitas untuk mengembangkan keintiman dan untuk merasa teharu.
Orang yang sehat secara psikologis mampu mengembangkan relasi intim dengan orang tua , anak, pasangan dan sahabat. Ini merupakan hasil dari perluasan diri dan perasaan identitas diri yang berkembang dengan baik.

 Jenis kehangatan yang lain, yaitu perasaan terharu ,merupakan hasil pemahaman terhadap kondisi dasar manusia dan perasaan kekeluargaan dengan semua bangsa. Orang sehat memiliki kapasitas untu k memahami kesakitan, penderitaan, ketakutan, dan kegagalan yang merupakan ciri kehidupan manusia.

Hasil dari empati semacam ini adalah kesabaran terhadap tingkah laku orang lain dan tidak cenderung mengadili atau menghukum. Orang sehat dapat menerima kelemahan manusia , dan mengetahui dirinya juga memiliki kelemahan, sebaliknya orang yang neurotis tidak mampu bersabardan memahami sifat universal pengalaman – pengalaman dasar manusia.

3.      Keamanan Emosional

Kualitas utama manusia sehat adalah penrimaan diri. Mereka menerima semua segi keberadaan mereka, termasuk kelemahan- kelemahan dengan tidak menyerah secara pasif terhadap kelemahan tersebut.
           
Selain itu, kepribadian yang sehat tidak tertawan oleh emosi – emosi mereka, dan tidak berusaha bersembunyi dari emosi – emosi itu. Mereka dapat mengendalikan emosi, sehingga tidak mengganggu hubungan antarpribadi. Pengendaliannya tidak dengan cara ditekan , tetapi diarahkan ke dalam saluran yang lebih konstruktif.

4.      Persepsi Realistis
Orang – orang yang sehat memandang dunia secara objektif. Sebaliknya orang- orang neurotis kerapkali memahami realitas disesuaikan dengan keinginan, kebutuhan , dan ketakutan mereka sendiri. Orang sehat memahami realitas sebagaimana adanya.
5.      Keterampilan dan Tugas

Kotmitmen pada orang sehat atau matang begitu kuat, sehingga sanggup menenggelamkan semua pertahanan ego. Dedikasi terhadap perkerjaan berhubungan dengan rasa tanggung jawab dan kelasungan hidup yang positif.

Perkerjaan dari tanggung jawab memberikan arti dan perasaan kontinuitas untuk hidup.  Tidak mungkin mencapai kematangan dan kesehatan psikologis tanpa melakukan perkerjaan yang penting dan melakukannya dengan dedikasi, komitmen  dan keterampilan.

6.      Pemahaman Diri

Untuk mencapai pemahaman diri yang memadai dituntut pemahaman tentang dirinya , menuntut keadaan sesungguhnya. Jika gambaran diri yang dipahami semakin dekat dengan keadaan yang sesungguhnya , individu tersebut semakin matang. Orang yang sehat terbuka pada pendapat orang lain dalam merumuskan gambaran diri yang objektif.
Orang yang memiliki objektifitas terhadap diri tak mungkin memproyeksikan kualitas pribadinya kepada orang lain( seolah orang lain negative).
7.      Filsafat Hidup

Orang yang sehat melihat ke depan , didorong oleh tujuan dan rencana jangka panjang. Ia memiliki perasaan akan tujuan , perasaan akan tugas untuk berkerja sampai tuntas sebagai bantu sendi kehidupannya.



DAFTAR PUSTAKA
Dra. M. M. Nilam Widyarini, Msi.2009. kunci pengembangan diri.Jakarta: PT Elex media komputindo.
Calvin S. Hall dan Gardner Lindzey. 1993. Teori-Teori Psikodinamik (Klinis). Yogyakarta : Kanisius.
Diane E. Papalia, Sally Wendkos Olds,dan Ruth Duskin Feldman.2009. Human Development .jakarta : Salemba Humanika.